Reportage

the lobster 2

Liputan Diskusi Kedai Komunitas Psikoanlisis

Mencintai Yang Menyerupa Kamu


Pernahkah anda bertanya (atau ditanyakan) oleh pasangan anda pertanyaan berikut: Apa alasan kamu mencintaiku? Bagian mana dari aku yang membuatmu mencintaiku?

Jawaban yang mungkin muncul bisa jadi apapun. Bisa jadi perhatiannya, senyumnya, paras wajahnya, bahkan semuanya dari dia –APA PUN!

Tentu karena apapun dapat menjadi jawaban, maka para romantic mengidolakan jawaban yang  tidak boleh luput dari bahasa ini: “Tidak tahu.. tapi aku tetap cinta”.

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pantikan awal setelah Komunitas Diskusi Kedai Psikoanalisis yang diselenggarakan oleh Minerva Co-Lab selesai melakukan nobar (nonton bareng) film “The Lobster” (2015) besutan Yorgos Lanthimos di Owl House Coffea, Jakarta Barat.

Acara ini merupakan kegiatan rutin Minerva Co-Lab untuk mengkaji bersama sekaligus memperkenalkan cara berpikir psikoanalis kepada muda-mudi hari ini. Sehingga fokus dalam diskusi bukanlah aspek-aspek perfilman dari The Lobster namun konsep-konsep psikoanalisis yang dapat dipelajari dari medium ini.

the lobster 1

Suasana Diskusi “Belahan Jiwa dan Kesendirian” (Jakarta, 8 September 2016).

Dalam diskusi “Belahan Jiwa dan Kesepian” ini, konsep mengenai apa yang disebut Semblant oleh psikoanalis Jacques Lacan menjadi pembuka untuk mengeksplorasi esensi “diri”, kebebasan, sampai cinta.

Mencari Belahan Jiwa atau Memilih Jomblo?

“Manusia diciptakan berpasang-pasangan”, tentu ungkapan ini tidak asing didengar –bahkan levelnya sudah diamini dengan basis agama, sosial-kultural, sampai mitos purba mengenai manusia dilahirkan berkepala dua, berkaki dan bertangan empat yang dibelah dua oleh dewa-dewa.

Film The Lobster menunjukkan betapa ekstrem ungkapan tersebut termaterialisasi dalam sebuah dunia distopia yang mana orang-orang yang kita sebut jomblo harus mendapatkan pasangan selama waktu singgahnya di suatu hotel. Taruhannya jika si jomblo gagal mendapatkan pasangan selama tinggal di hotel, maka ia akan dilepas ke hutan dan diberikan kesempatan kedua untuk mencari pasangan namun dalam wujudnya sebagai hewan. Judul film ini muncul karena tokoh utama lelaki kita, memilih untuk menjadi lobster jika ia gagal.

Satu poin penting yang perlu diperhatikan dalam film ini adalah permasalahan esensi. Apa yang membuat manusia itu “manusia”? Sialnya, karena esensi seorang “manusia” adalah berpasang-pasangan, sehingga yang tidak berpasangan tidak pantas menjadi manusia sehingga layak diubah jadi hewan dan bahkan dibunuh. Medium film ini menunjukkan betapa ekstrem implikasi dari perkara esensi yang barusan disebutkan.

Tapi implikasi belahan jiwa yang terus dicari untuk dapat “memenuhi” suatu relung kosong diri ini juga penting dalam memahami mengapa kemudian “kesendirian” mungkin menjadi permasalahan kronis penyebab kegalauan, depresi, bahkan bunuh diri muda-mudi hari ini.

Seperti Apa Belahan Jiwamu?

Kembali lagi pada pertanyaan awal. Sesungguhnya pertanyaan “apa yang membuat saya mencintai kamu” juga mempertanyakan esensi. Bukan esensi sebagai manusia, tapi esensi dari sang terkasih. Hal ini penting karena merefleksikan apa yang membuat kita mencintai dia dan bukan yang lain. Apa kiranya  yang membuat dia “spesial”?

Di saat jawabannya bisa apapun, hal ini bukanlah sekedar permasalahan subyektif individu-individu atas pengalamannya bersama sang terkasihnya sendiri.  Seperti mengapa satu orang bisa mencintai karena perhatian pasangannya di saat orang lain bisa mencintai karena uang. Permasalahannya adalah karena sang terkasih esensinya tidak ada. Kosong.

Dan berterimakasih atas kekosongan ini, sang terkasih dapat dilekatkan dengan atribut apapun yang dapat kita internalisasi sebagai “dia” –yang kita hasrati.

Formulasi mencengangkan dari Lacan bahwa “Woman does not exist” tepat menyasar poin ini dalam artian The Woman (Sang Perempuan Sejati) tidak ada. Yang ada adalah variasi-variasi perempuan (women) yang mungkin masuk dalam kekosongan kategori perempuan sejati. Variasi-variasi ini lah yang menjadi pintu masuk dalam memahami konsepsi psikoanalisis terkait “Semblant”.

Semblant adalah yang menghidupi relung kosong ini. Suatu yang menyelubungi kekosongan dan menjadikannya ada. Suatu perantara yang tampak menyerupai kenyataan akan obyek hasrat dan memungkinkan kita untuk mengidentifikasi “Ah.. untuk orang sepertiku, pasangan seperti ini yang aku cari!” walaupun bukan itu juga.

Karena semblant yang tampak sebagai bentuk dari pilihan personal sesungguhnya sangat luwes dan disusupi pandangan, ekspektasi, dan penilaian eksternal. Suatu hal yang pasti, semblant memungkinkan kita mencintai dia –yang nampaknya seperti dia, namun bukan dia.

Tapi terdapat kondisi dilematis: Jika kita mengetahui apa yang membuat kita mencintai sang terkasih, maka logikanya kita tidak akan mencintainya saat hal tersebut hilang. Jadi saat kita tahu alasan kita mencintai, apakah itu cinta?

Kebebasan dan Pilihan dalam Mencinta

Sebelum membahas tentang esensi dari cinta, menguak pertanyaan apakah kita bebas mencinta? Pilihan menghasrati untuk menjadi heteroseksual, homoseksual, panseksual, maupun aseksual –dalam kaitannya memilih untuk berpasangan atau sendiri itu toh sudah dikoridori sedemikian rupa untuk memilih hanya dari pilihan yang diterima secara sosial.

Walaupun tampak bahwa seakan seseorang dibatasi pilihannya, dalam posisi psikoanalis, kebebasan tetap ada. Subyek –dalam hal ini individu—bertanggungjawab sepenuhnya atas pilihan yang ia ambil, termasuk posisinya saat ia terbatasi pilihannya. Pilihan untuk bebas sebebas mungkin tetap dan pasti ada. Permasalahannya adalah subyek melindungi diri dari kebebasan (dan konsekuensi-konsekuensi yang tidak sanggup ia pikul) dengan memposisikan dirinya “tidak memiliki pilihan”.

Jadi saat seorang janda Sati di India tidak memiliki pilihan selain mati bersama almarhum suaminya, bukan berarti pilihannya untuk hidup lantas hilang. Tidak! Ia tetap memiliki kebebasan untuk memilih hidup. Hal yang sama dimiliki oleh seorang prajurit perang yang selalu memiliki pilihan untuk tidak menjalankan perintah atasannya untuk turut serta dalam pembunuhan massal.

Lantas apa itu “cinta”?

Dalam diskusi ini, pembahasan tidak berhenti pada cinta sebagai sesuatu yang destruktif  yakni sesuatu yang akan selalu merubah dan mengacak-acak pijakan seseorang atas hal-hal yang ia ketahui sebelumnya. Diskusi ini justru menawarkan pandangan yang mengutip psikoanalis Slavoj Zizek, “Love is evil!”.

Cinta adalah iblis karena sifatnya yang vampiric –seperti vampir yang menghisap vitalitas orang lain untuk memberikan vitalitas pada dirinya sendiri. Seperti kisah Rose dalam film Titanic yang hanya membutuhkan sosok Jack untuk memberikan vitalitas kelas bawah ke dalam rutinitas hidup kelas elitis yang membosankan.

Tetapi tentu, pandangan ini masih sangat terbuka untuk diperdebatkan. Malah, harapannya justru untuk dapat dibantah. Penting untuk secara serius mengkaji tentang cinta dan tidak hanya menjadikannya produk ideologis sehingga akan memungkinkan tindakan-tindakan “atas nama cinta” dapat dipertanggungjawabkan.

Karena saat kita tidak mempertanyakan cinta dengan menghujatnya sebagai “bukan cinta”, saat ia dapat diketahui secara logika, maka sesungguhnya sikap demikian hanyalah kemalasan berpikir.

— oo —

Ditulis oleh Priska Sabrina Luvita,

salah satu pegiat di Unit Noctua Co-Studio sayap Literati dari Koperasi Riset Purusha.


Dinamika Perubahan Agraria: Kelas, Jender, Kuasa dan Pengetahuan

Temu Cakap dalam Studi Gerakan Agraria


Ruang diskusi tak hanya bisa dijadikan sebagai ruang tukar wacana. Ia bisa menjadi wadah sinkronisasi agenda dan temuan riset yang menyambungkan pandangan antara menara gading dan akar rumput. Demikian pulalah tujuan utama pengadaan diskusi Dinamika Perubahan Agraria: Kelas, Jender, Kuasa dan Pengetahuan yang diadakan pada Selasa, 30 Agustus 2016. Diskusi yang diadakan oleh Unit Gerakan dan Eksperimentasi (GEREKS) dari Koperasi Riset Purusha (KRP),  Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI), Institut Kajian Krisis & Strategi Pembangunan Alternatif (Inkrispena), Diskaz Labor House, dan Angsa Hitam Coffee Roaster Co-ops  ini menghadirkan tiga pembicara yang membahas isu agraria dari tiga spektrum yang berbeda.

Spektrum pertama ialah mengenai politik dalam gerakan agraria yang dibahas oleh Iqra Anugerah. Pada diskusi yang diadakan di Diskaz Labor House café ini, Iqra memaparkan temuan riset disertasinya mengenai hubungan antara elit dan petani pasca Orde Baru. Risetnya di daerah Bengkulu, Bulukumba (Sulawesi Selatan) dan Serang memang banyak mengkaji hubungan antara elit dan gerakan petani. Melalui presentasinya yang bertajuk Agrarian Politics in Post-Authoritarian Indonesia, Iqra mengungkapkan variasi hubungan petani dan elit di tingkat lokal, khususnya dalam studi kasus pemetaan gerakan agraria di Bulukumba.

Menurut Iqra, gerakan agraria di Bulukumba dimulai sejak tahun 1950an. Seiring dengan meningkatnya intensitas perampasan di tahun 1970an hingga 1980an, maka gerakan agraria pun semakin meningkat dimulai dari advokasi berbasis hukum hingga advokasi berbasis LSM. Namun, advokasi berbasis gerakan sosial baru muncul di tahun 2009an melalui sebuah aliansi yang bernama AGRA. Ia ditujukan untuk membangun aliansi lintas sektoral dan kelas dalam gerakan agraria di Bulukumba. Riset yang dilakukan Iqra sejak Mei hingga Juni 2016 ini menunjukkan bahwa terjadi dinamika gerakan agraria yang disertai variasi bentuk perampasan lahan. Selain itu, modalitas dan strategi gerakan pun memiliki variasi yang ditujukan untuk mengkoneksikan gerakan, baik di level lokal, nasional maupun internasional. Sebagai contoh ialah strategi gerakan AGRA di Bulukumba yang pernah mengujicobakan sebuah sistem pertanian organik berbasis gerakan.

Menurut peneliti dan penulis IndoProgress ini, membaca transformasi agraria adalah hal yang susah-susah gampang. Salah satu pertanyaan penting yang harus dijawab—namun, sayangnya seringkali terlewatkan dalam kerja-kerja penelitian—adalah: apakah hari-hari ini pertanian masih menjadi basis penghidupan utama di pedesaan? Misalnya, mengingat semakin berkembangnya sektor-sektor off farm di pedesaan atau sumber penghasilan lain seperti kerja pabrik dan sektor informal.

Spektrum selanjutnya ialah mengenai jender dalam dinamika gerakan agraria. Hanny Wijaya yang merupakan antropolog dari Universitas Gadjah Mada memaparkan temuannya tentang buruh tani perempuan di Kulonprogro. Menurut anggota Koperasi Riset Purusha ini, relasi jender bisa menjadi pintu masuk untuk menguak relasi produksi yang eksploitatif. Pemetaan struktur agraria akan cenderung tak tepat jika hanya melihat relasi kelas tanpa melihat relasi jender. Terutama ketika melihat pelaku produksi yang sebetulnya juga banyak melibatkan perempuan. Hanny mencoba melihat dinamika perubahan agraria dan relasinya dengan kapitalisme serta jender. Kapitalisme dipandang tak hanya terjadi melalui kegiatan perampasan lahan. Ia juga terjadi melalui komodifikasi subsistensi, yakni sebuah kondisi dimana segala aspek yang dibutuhkan petani untuk mereproduksi dirinya tak bisa lepas dari relasi komoditas di pasar.

Dalam risetnya, Hanny mendefinisikan buruh tani sebagai petani gurem dan petani tak bersawah. Yang dimaksud dengan buruh tani ialah mereka yang hanya memiliki sedikit lahan (atau disebut dengan petani gurem) atau mereka yang sama sekali tidak memiliki tanah (tunakisma). Kedua kelompok ini adalah mereka yang harus menjual tenaga kerjanya kepada pemilik lahan lain, utamanya saat musim tanam dan panen padi demi mencukupi kebutuhan hariannya. Pada proses reproduksi di keluarga buruh tani khususnya petani padi sawah, perempuan memiliki peran yang signifikan dalam mengatasi aspek ketidakmenentuan ekonomi. Dalam reproduksi sosio kultural, perempuan ‘diposisikan’ untuk menjaga tatanan hidup pedesaan yang tersusun dari hal-hal kecil namun signifikan. Subordinasi perempuan terjadi melalui domestifikasi keterlibatan perempuan di wilayah pertanian. Misal, kelompok tani biasanya hanya terdiri dari lelaki. Jikapun ada kelompok tani perempuan, maka tugasnya hanya diarahkan untuk mengurus tanaman pekarangan saja. Padahal faktanya pengolahan pasca panen dan aspek reproduksi pada pertanian pun dikerjakan oleh perempuan. Di titik ini, ekonomi politik materialis tak terlalu menghitung unit rumah tangga dan relasi jender sebagai aspek pembentuk dinamika perubahan agraria. Sehingga aspek reproduksi pun tidak terlalu diperhitungkan sebagai sumber dari komodifikasi.

Selanjutnya, Rhino Ariefiansyah membahas aspek kuasa pengetahuan dalam kehidupan petani. Peneliti di pusat kajian antropologi Universitas Indonesia ini memaparkan temuannya ketika bekerja sama dengan petani saintis di Indramayu. Ada beberapa alasan munculnya kolaborasi petani dan ilmuwan yang dilakukan Rhino ini. Salah satunya ialah mengenai lingkungan dan situasi politis terkait bibit padi yang makin berkurang. Sehingga sejak tahun 2006, dimulailah kerjasama dengan pendokumentasian kegiatan pemuliaan padi oleh petani. Kemudian sejak tahun 2010 dilakukan eksperimen pendekatan trans dan interdisipliner kolaboratif bersama petani dengan melibatkan ilmuwan antropolog serta agronom meteorologi dari Belanda. Pada tahun 2011, kerjasama ini menghasilkan publikasi berupa buku dan film tentang pemuliaan bibit tanaman padi di Indramayu. Rhino pada kesempatan ini sempat memutarkan video dokumentasi kerjasamanya dengan petani di Indramayu.

Menurut Rhino, istilah petani saintis atau petani ilmuwan ini terbentuk dari program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam kerjasama yang dilakukannya,  baik petani maupun ilmuwan berkolaborasi melakukan pencatatan dan eksperimen bersama. Sehari-hari petani mengukur curah hujan dari omplong serta mencatat hasil pengukurannya. Kemudian para petani mengamati situasi apakah hama membutuhkan pestisida atau tidak. Aspek jender dimunculkan ketika keputusan metode penanganan hama ini berada di tangan perempuan.

Kolaborasi petani dan akademisi yang dilakukan Rhino kemudian berkembang menjadi sebuah kelompok ilmiah lapangan. Namun pada titik tertentu, justru muncul hambatan dari birokrasi ketika rekomendasi kebijakan yang hendak diajukan terbentur dengan masalah politik pemerintahan. Kesempatan untuk menghubungkan petani dengan hub-hub pengetahuan malah terhalang oleh hal-hal yang bersifat politis.

Sesi tanya jawab berlangsung sangat dinamis. Tak kurang 7 dari 41 peserta yang hadir mengajukan pertanyaan maupun komentar terhadap paparan ketiga pembicara. Salah satunya ialah seorang kawan dari sosiologi Universitas Indonesia yang mengapresiasi ruang diskusi agraria semacam ini. Renald dari SBM ITB juga mengajukan pertanyaan terkait keberadaan riset mengenai tengkulak. Hanny menjawabnya dengan merujuk sebuah pengalaman risetnya bersama petani-petani di daerah Praon dan Jetis. Mereka pada waktu itu memutus relasi dengan tengkulak melalui Credit Union (CU) atau koperasi petani. Model yang kala itu dibuat ialah koperasi simpan pinjam. Namun pada aspek ini perlu juga ada pembacaan kritis mengenai koperasi yang ada di desa. Koperasi simpan pinjam biasanya hanya selesai pada kegiatan ekonomi saja namun belum mampu menyasar pada level intervensi kepemilikan sumber produksi. Sehingga menurut Hanny untuk memutus tengkulak tidak cukup hanya dengan simpan pinjam saja. Iqra menambahkan bahwa di Serang, sosok tengkulak justru adalah kelompok tani itu sendiri. Dalam hal ini, institusi yang jarang dibahas dalam gerakan tani justru adalah kelompok tani.

Muki dari pusat kajian antropologi Universitas Indonesia sempat menanyakan pada Iqra mengenai konteks gerakan masyarakat adat di Bulukumba dalam merespon reformasi agraria di sana. Menurut Iqra, pimpinan adat di Bulukumba pun malah mendukung aksi penjualan tanah sedangkan gerakan agraria berusaha mendorong lahirnya PERDA hak masyarakat adat di Bulukumba. Selain itu, Muki juga menanyakan mengenai konsekuensi aspek jender dalam dinamika gerakan agraria serta dimensi jender seperti apa yang perlu dilihat dalam konteks reforma agraria yang nantinya akan ada dalam UU agraria tersebut. Menurut Hanny, konsekuensi persepsi jender adalah untuk melihat agraria secara menyeluruh. Bagi Hanny pribadi, kemiskinan di desa berwajah perempuan. Ia seringkali diselesaikan melalui penanaman tanaman yang bisa dijual dan bukan dengan tanaman penyedia pangan termasuk pada pekarangan yang dikelola perempuan. Dalam hal ini, penting sekali bagi buruh tani perempuan untuk memiliki serikat untuk melegitimasi akses .

Salah satu tanggapan untuk ketiga pembicara pun sempat dilontarkan oleh Iwan Pirus. Ia melihat bahwa ada pengetahuan tentang hubungan subjek manusia dengan properti yang ada di sekitarnya. Relasi sosial antara manusia di kampung, alat dan propertinya bisa mewujud dalam suatu hukum masyarakat adat. Selain itu menurutnya, dalam studi jender yang sebetulnya perlu diperhatikan ialah bagaimana implikasi kapitalisme terhadap segalanya, terutama perempuan. Bahwa struktur hirarkis kapitalisme menghancurkan alam, manusia dan segala relasi di antaranya. Menanggapi Rhino, Iwan menggarisbawahi bahwa musuh petani saintifik ternyata bukan ilmuwan, namun politik. Sehingga revolusi sains semestinya adalah untuk merebut secara politik. Ia mempertanyakan apakah strategi semacam ini pernah terpikirkan agar tujuan emansipasi bukan sekedar melindungi ilmu pengetahuan saja. Menanggapi ini, Rhino mengungkapkan bahwa bicara soal diduduki, jangan-jangan bukan hanya tanah tapi juga pengetahuan soal tanah yang telah diduduki. Perjuangan politik pun menimbulkan kegamangan tersendiri bagi para petani. Transisi lahan dari use value ke exchange value pun bisa jadi merupakan suatu strategi politik.

Beberapa peserta lainnya mengungkapkan pula temuan dalam riset yang pernah dilakukan. Hodir dari Malang misalnya. Ia mengungkapkan kasus water grabbing di Malang di mana sumber mata air banyak hilang akibat peningkatan pariwisata. Menurutnya, reforma agraria tak melulu soal tanah tapi juga menyangkut sumber hidup. Dadan dari KPRI mengungkapakan pengalaman serikat tani Pasundan soal pemotongan tengkulak. Di KPRI memotong tengkulak dilakukan dengan menjual hasil tani sendiri dimana organisasi mengambil kopi dari petani secara langsung dengan harga 3x lipat dari pembelian tengkulak. Komoditas yang dibeli sejauh ini adalah kopi dan rokok yang kemudian didistribusikan kepada konsumen melalui kedai KPRI.

Pertanyaan terakhir diajukan oleh Hizkia Yosie mengenai tips untuk meneliti sesuatu yang berjarak agar tidak bias oleh subjektivitas peneliti. Menurut Rhino, hal pertama yang perlu dilakukan ialah menyadari posisi politik peneliti bahwa memang ia memiliki bias, subyektivitas dan kehadirannya akan mengubah konstelasi politik. Sadar, menjadi hal yang paling utama. Bahwa peneliti memang datang dengan segala bias termasuk bias ruang, waktu, kota dan lain sebagainya. Hanny menambahkan bahwa dalam pengalaman riset lapangan yang ia lakukan, ia mencoba membumi dan berkomunikasi dengan bahasa semudah mungkin. Ada sikap dasar yang perlu dihadirkan ketika ke desa bahwa peneliti pun berangkat dengan pertanyaan. Menurutnya, bias dapat diminimalisir seiring dengan pengetahuan yang didapat di lapangan. Iqra pun mengamini pandangan kedua pembicara. Mahasiswa studi doktoral di University of Northern Illinois tersebut menambahkan bahwa dalam teknik mencatat sebisa mungkin peneliti tidak mencatat di depan orang. Selain itu, riset lapangan membutuhkan ketahanan fisik yang baik dan memahami posisi kita sebagai peneliti. Terakhir yang klise namun penting adalah menjadi pendengar yang baik.

Dicky Dwi Ananta dari Institut Kajian Krisis & Strategi Pembangunan Alternatif (InKRISPENA) selaku moderator menggarisbawahi bahwa perlu ada refleksi kembali mengenai kerja-kerja lapangan yang telah dipaparkan. Selain itu, implikasi temuan studi agraria teoritis terhadap praktek agraria di lapangan pun perlu menjadi perhatian para penstudi agraria di Indonesia. Sejalan dengan ini, Iqra pun memaparkan bahwa diskusi semacam ini bisa menjadi ruang untuk mencari potensi –potensi yang bisa dikolaborasikan untuk gerakan agraria terutama dengan kehadiran peneliti lintas jurusan yang meneliti isu agraria. Topik bahasan ketiga pembicara yang hadir kali ini memang berbeda namun saling memiliki keterkaitan.

Dalam hal ini, perlu ada pengorganisasian kooperatif untuk mengkolaborasi temuan peneliti agar konektivitas terjadi antara hubungan urban dan rural. Sebagaimana yang sempat diungkapkan Rhino, isu kesetaraan pun menjadi penting, baik dalam hal pengetahuan maupun keseharian.

Dirangkum dari proses diskusi “Dinamika Perubahan Agraria: Kelas, Jender, Kuasa dan Pengetahuan”, Selasa, 30 Agustus 2016.

Ditulis oleh Anggraeni Dwi Widhiasih,

salah satu pegiat di Unit Noctua Co-Studio sayap Literati dari Koperasi Riset Purusha.