Pelatihan Riset Aksi-Terapetik Psikoanalisis Jacques Lacan (Untuk Ilmu Sosial-Humaniora)

(Pelatihan dalam rangka melaksanakan Riset Aksi-Terapetik Minerva Co-Lab bekerjasama dengan PURUSHA Sharing & Learning)

minerva-pusel fixed

 

Minerva Co-Lab dan Purusha Sharing & Learning (PUSEL) akan melaksanakan pelatihan gabungan dalam rangka menjalankan riset aksi-terapetik “Struktur & Kegelisahan Milenials Urban”. Pelatihan selama dua hari secara intensif berisikan 5 sesi materi dan 1 sesi workshop ini akan diampu oleh Dr. Hizkia Yosie Polimpung, Priska Sabrina Luvita, & Aini Wilinsen.

Walaupun pelatihan ini diadakan untuk memfasilitasi kegiatan riset aksi-terapetik yang akan berjalan, siapapun bebas untuk mendaftarkan diri dan mengeksplorasi metode penelitian secara psikoanalisis Lacanian.

Jadi, siapkan kedirian anda dan juga camilan potluck untuk ikut bergabung dengan kami! Kami juga menyediakan sertifikat pelatihan untuk anda.

 

DESKRIPSI PELATIHAN:

Menggunakan psikoanalisis untuk memahami dan menjelaskan fenomena “non-klinis” dan “non-individual” umumnya jatuh pada analogi dan aplikasi. Sebenarnya, hal inilah yang menjadi biang seluruh kesalah-kaprahan pandangan mengenai psikoanalisis pada umumnya, baik itu di kalangan para pendukung maupun para pencelanya. Alhasil, frasa “mengaplikasikan/menerapkan psikoanalisis ke bidang sosial” adalah kekeliruan yang teramat fatal, yang bahkan dapat memandulkan potensi psikoanalisis itu sendiri sebagai pisau analisis. Dalam pandangan keliru ini, subyek/individu diasumsikan memiliki batas pemisah dengan sosial/masyarakat. Padahal, psikoanalisis itu sendiri sudah berbusa-busa sejak 100-an tahun lalu mengatakan bahwa tidak ada itu yang namanya “diri” yang ajeg dan integral.

Pelatihan ini mencoba berkontribusi pada upaya menawarkan pendekatan baru dalam menggunakan psikoanalisis, baik di konteks klinik maupun non-klinik—karena pada dasarnya keduanya tidaklah berbeda. Artinya, dalam menganalisis depresi ABG, telenovela hiperbolik, efek sinematik film avant-garde, permainan bahasa prosaik dan puitik, manuver politik Donald Trump, dst., praktis tidak terdapat perbedaan fundamental—sekalipun penyesuaian teknis tentunya diperlukan. Seluruh materi pelatihan ini disusun dengan mengacu pada pendekatan yang dipelopori oleh Jacques Lacan,

 

Dalam Pelatihan ini Peserta akan Mempelajari:

  • Proses pembentukan lima struktur mental (psikosis, perversi, neurosis, borderline dan autis) melalui kompleks oedipus (dan tiga tahap: deprivasi, frustrasi dan kastrasi).
  • Proses yang melahirkan hasrat dan ke-12 bentuknya yang tersebar di tiga ranah psikis subyek : riil, simbolik dan imajiner.
  • Cara mendeteksi dan membaca simtom hasrat dalam modus-modus wacana yang tersebar ke dalam empat struktur: universitas, master, histerik dan analis (bonus: kapitalis,
  • Konsep dan teknik intervensi terapetik dalam psikoanalisis.

 

PEMBEDAHAN SESI PELATIHAN:

Sesi I   : Pendahuluan; dan “Mengapa Psikoanalisis? Mengapa Lacanian?”

Peserta mendiskusikan argumentasi mengenai pentingnya psikoanalisis dalam intervensi sosial maupun klinis di tengah maraknya tren-tren kognitivis, neurologis dan populerisasi psikologi. Batasan ilusif mengenai “yang individual” dan “yang sosial” juga diperkenalkan di sini sebagai dasar penalaran psikoanalisis melampaui analogisme. Dalam hal ini, peran topologi dalam psikoanalisis Lacanian mendapat titik tekan. Peserta juga diperkenalkan dengan gagasan ‘riset aksi-terapetik’ yang hanya dimungkinkan oleh psikoanalisis.

 

Sesi II  : Kompleks Oedipus I: Seksualisasi dan Seksuasi

Pada sesi ini konsep-konsep krusial dan fundamental psikoanalisis dibahas: seksualitas dan kompleks oedipus. Peserta diajak untuk menelusuri proses-proses yang melahirkan konsepsi (ilusif) mengenai: 1) kesadaran/ketidaksadaran; 2) diri/“aku.” Sifat kemenduaan dari kompleks ini ditekankan khususnya pada pasangan oedipalisasi/neurotisisasi.

 

Sesi III : Kompleks Oedipus II: Lahirnya Hasrat (dan 12 jenisnya)

Konsekuensi lainnya dari resolusi kompleks oedipus adalah lahirnya hasrat yang menjadi tujuan hidup yang mustahil bagi seluruh umat manusia tanpa pandang bulu. Peserta dibawa untuk mengeksplorasi rupa-rupa proyeksi hasrat yang dapat terkategorikan ke dalam 12 jenis. Pula anatomi dari hasrat (yi. tiga lapis: obyek hasrat, obyek a, fantasi fundamental) juga dibahas untuk membantu peserta untuk tidak larut dalam sebaran rupa-rupa hasrat.

 

Sesi IV : Kegelisahan, dan Struktur Psikis Neurotik dan Borderline

Subyek yang telah melalui kompleks oedipus di lima tahun pertamanya akan masuk satu dari tiga ‘struktur psikis’: neurosis, psikosis dan perversi. Pelatihan kali ini akan memfokuskan ada neurosis, dan juga pada perkembangan terkininya pada konsepsi struktur psikis ‘borderline’. Tiga konsep yang menjadi landasan pembeda juga akan dibahas mendetil: kegelisahan, mekanisme pertahanan dan fiksasi.

 

Sesi V  : Metode: Pembacaan Simtomatik, Asosiasi Bebas dan Analisis

Di sesi ini dibahas pembedaan antara ‘analisis’ dalam psikoanalisis dengan istilah lain yang mirip: terapi, sugesti, diagnosis. Pula juga dibahas hal-hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan teknis analisis psikoanalisis dalam setting “non-klinis” (yi. sosial, tekstual, sinematik, saintifik, artistik, dst.). Terkait ini, pembahasan mengenai ‘simtom’ dan ‘sinthome’ mendapat penekanan, disamping konsepsi dasar Freudian seperti ‘asosiasi bebas’ dan ‘transferensi’.

 

Sesi VI : Workshop: Operasionalisasi Riset

Sekalipun menyusun tipologi dan klasifikasi, psikoanalisis sama sekali tidak hendak mereduksi keliaran sebaran dari kekhususan kasus-kasus subyek. Alhasil, penggunaan kategorisasi dalam psikoanalisis Lacanian mensyaratkan perhatian terperinci mengenai kekhususan, spesifisitas dan keunikan dari setiap peristiwa (kasus “personal” atau fenomena “sosial”) yang hendak dianalisis. Implikasi metodologisnya, pengguna kerangka analisis dituntut memiliki kepekaan tinggi mengenai obyek analisisnya (dan bukan pandangannya mengenai obyek analisis). Sesi ini adalah upaya menjajal kepekaan itu di para peserta.

 

**Reading list akan diberikan saat RSVP**