Finansialisme: Keseharian Finansialisasi Keseharian – dan Terfinansialisasi lagi

Finansialisme Cover

Riset “Finansialisme: Keseharian Finansialisasi Keseharian – dan Terfinansialisasi lagi” ini, sejatinya didasari motivasi untuk menunjukkan dominasi aspek finansial di dalam ekonomi dunia hari ini. Sekalipun berbicara mengenai aspek finansial, sebenarnya yang menjadi sorotan utama studi kali ini lebih kepada fenomena finansialisasi, atau yang dalam riset ini diartikan sebagai proses masuknya ikhwal ke dalam logika finansial.

Dewasa ini, segala sesuatunya nampaknya tidak bisa dilepaskan dari uang. Keuangan menjadi marka yang mentukan kontur dan tekstur narasi drama kehidupan manusia. Dominasi uang ini, setidaknya yang hendak dijadikan titik tolak riset ini, bisa terlihat dari dua hal: kedigdayaan global Amerika Serikat yang dilandaskan pada ekonomi politik hutangnya, dan merajalelanya praktik dan wacana inklusi finansial. Kedua hal ini sengaja diambil untuk merepresentasikan dua tingkat yang relatif berbeda: global dan lokal.

Dalam langgam yang demikian, analisis pada riset ini dilakukan. Dari pembongkaran terhadap dinamika makroskopik pada tingkat global, menukik jauh ke bawah menuju penelusuruan mendalam atas dinamika yang berlangsung pada tingkat mikro-lokal.

Pertama, riset ini menyasar pembongkaran terhadap tata-dunia berbasis finansial, yang tidak dapat dilepaskan dari kedigdayaan global AS berbasis hutang. Untuk memahami kedigdayaan global AS yang menentukan kontur tata dunia kontemporer, analisis berlangsung pada tingkat makroskopik. Indikator pertama yang perlu dilihat untuk menunjukkan dimensi global dari perekonomian suatu negara adalah indikator neraca transaksi berjalan (current account balance). Indikator ini merupakan total dari perdagangan internasional netto (ekspor-impor) dan transfer pemasukan netto (pemasukan dan pembayaran dari investasi asing). Dengan kata lain, indikator ini dapat menunjukkan sampai sejauh mana suatu negara bergantung / berkontribusi pada ekonomi dunia.

Merujuk kepada indikator tersebut, dapat dilihat dengan jelas bagaimana ekonomi AS sangat bergantung pada dunia (untuk sementara, kita kesampingkan dulu data 2008 ke belakang). Dengan kata lain, defisit yang begitu besar memberikan AS predikat defisit no. 1 dunia, yang artinya, dengan kata lain, AS adalah pengutang no. 1 dunia. Bisa dilihat, bahwa sejak 1995 s/d 2006, kurva neraca bergerak konstan menurun (kecuali 2000/1). Bahkan, semenjak 1997, penurunan itu semakin menajam. Dalam 10 tahun saja, semenjak 1996, defisit tersebut membengkak sampai lebih dari 600%. Sampai di sini bisa disimpulkan sementara bagaimana ekonomi AS ditumpukan pada defisit perdagangan internasional.

Tidak hanya berhenti di situ, riset ini kemudian menelusuri lagi sektor yang paling dominan secara presisi di balik defisit tersebut. Pembedahan terhadap anatomi pertumbuhan AS, riset ini menemukan suatu fenomena yang sangat penting yang menopang perekonomian AS dalam wujud angka konsumsi yang tinggi, angka hutang yang tinggi, dan angka pemasukan masyarakat yang rendah. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa masyarakat AS mendedikasikan pengeluarannya untuk (bayar) hutang. Kredit, dengan kata lain, adalah instrumen penggerak ekonomi nasional AS. Hutang dengan demikian adalah komponen utama pertumbuhan AS.

Penelitian ini dengan sangat gamblang memperlihatkan betapa portofolio ekonomi AS sangat bergantung pada upayanya untuk mempertahankan pertumbuhan berbasiskan hutangnya. Ekonomi semacam ini, mau tidak mau mensyaratkan AS untuk menjalankan perdagangan defisit dengan dunia. Sehingga jelas bahwa AS membutuhkan dunia, terutama negara berkembang dan selatan untuk memenuhi kebutuhan impornya. Pula tulisan ini telah menunjukkan bagaimana sektor swasta memainkan peran kunci dalam menggerakkan sistem finansial AS dan mewarnainya dengan karakter-karakter spekulatif. Sektor finansial, juga telah didemonstrasikan, adalah modus paling menguntungkan untuk mengakumulasi kapital dan meraup keuntungan sebanyakbanyaknya. Apabila disepakati bahwa AS merupakan faktor utama pembentuk tata dunia kontemporer, maka bsia dipastikan dengan demikian bahwa tata dunia tersebut adalah tata-dunia berbasiskan finansial.

Kedua, riset ini menelusuri fenomena finansial lainnya juga terjadi di sektor mikro. Terjadi semacam gelombang inklusi keuangan, yaitu memasukkan sebanyak mungkin orang, terutama orang-orang miskin yang disebut-sebut penghuni “bottom of the pyramid” ke dalam skema finansial perbankan. Inklusi ini, dengan demikian, pada dasarnya bermakna akses. Wacana mengenai layak tidaknya kaum penyanggah piramida kelas sosial ini kemudian memunculkan perdebatan mengenai bankableness dari kaum ini. Orang miskin umumnya sulit mendapat pinjaman dari bank karena mereka tidak mampu memenuhi kriteria-kriteria kreditur yang baik, thus unbankable. Jaminan bahwa mereka mampu mengembalikan uang adalah pengganjal utama para asesor bank untuk mengabulkan pinjaman yang diajukan. Ke arah inilah program-program inklusi finansial diarahkan. Seakan-akan seantero jagad raya berbondong-bondong menyambut program ini. Mulai dari aktor global, maupun nasional. Pemerintah, swasta, bahkan LSM. Mulai pakar, sampai orang awam. Seolah-olah inklusi keuangan adalah hal yang fundamental bagi pengentasan kemiskinan, dan akses perbankan adalah solusinya.

Ketiga, fenomena inklusi finansial ini kemudian dianalisis lagi pada ranah yang lebih mikro pada tingkat Indonesia. Terbentang mulai dari kerangka kebijakan yang dicanangkan Bank Indonesia sampai kepada program Kredit Usaha Rakyat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2007, tampak jelas bagaimana inklusi finansial bergeliat di Indonesia. Bahkan, inklusi finansial menjadi sandaran bagi upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Dengan memperhatikan sirkulasi pembahasan di tingkat internasional maupun nasional terkait pro dan kontra mikro kredit ini, setidaknya terdapat tiga pola yang konsisten. Pertama, perhatian terfokus pada kondisi langsung (immediate) yang memiskinkan kaum miskin tanpa pernah mempertanyakan mengapa kondisi tersebut dimungkinkan keberadaannya terlebih dahulu. Kedua, perhatian tersedot pada persoalan teknis seputar pencairan dana, monitoring, evaluasi dan pelaporan tanpa pernah melihat aspek politisekonomis dari praktik-praktik teknis di lapangan tersebut. Ketiga, imajinasi solusi kemiskinan tidak pernah terlepas dari uang tanpa pernah memetik pelajaran bahwa adalah uang inilah yang selalu menjadi biang dari seluruh serial krisis ekonomi berskala global. Misi penelitian ini dengan demikian adalah untuk mengisi kekosongan dengan mempertanyakan ketiganya. Akhir dari investigasi ini tidak lain adalah pada pemecahan teka-teki yang disampaikan di awal, yaitu tentang efektivitas mikro kredit dalam menyelesaikan permasalahan mendasar yang telah terlebih dahulu menciptakan kondisi-kondisi yang membuat orang miskin selamanya miskin.

Lebih jauh lagi, riset ini menelisik ke dalam ranah yang lebih mikro untuk memeta sebaran aktor institusional proyek finansialisasi di Indonesia. Pemetaan bisnis finansial dalam skala mikro, pada riset ini, dikonsentrasikan pada kebutuhan masyarakat miskin (the poor people). Berpijak pada kerangka ini, beberapa pertanyaan utama menjadi sorotan meliputi: (Si)apa saja aktor2 yg terlibat secara aktif dalam proses finansialisasi terjadi di tingkatan ekonomi mikro di sana?; hal ini difungsikan untuk menarik garis linear antar debitur dan kreditur dalam cakupan yang lebih besar; penggunaan aktor dimaksud untuk memetakan titik-titik dominan yang mana saja yang bergerak, dan memberikan dominasi bahkan dalam skala yang paling kecil hingga yang paling besar. Kemudian yang kedua, Instrumen, skema dan mekanisme apa yang diciptakan dalam proses finansialisasi tersebut? Ini pula diperlukan untuk mengetahui seberapa masif dan dominan atas kekuasaan yang dimiliki dalam proses finansialisasi tertentu. Dalam pekerjaannya; akan terdapat dua sub bagian kerja, yaitu dengan memetakan jejaring sosial debitur-kreditur (individu, kelompok, institusi–perusahaan [semua sektor], negara, LN) – semua sektor. Dalam hal ini, batasan yang akan digunakan yaitu pemain mikro dalam tingkatan lokal, hingga internasional.

Melalui pemetaan yang dilakukan dalam riset ini, tergambar otoritas; atau pemegang kendali dari tiap lembaga mikro yang ada di Indonesia, meliputi keterjejaringan atas dominasi peran. Inventarisir ini, kemudian memungkinkan adanya kontrol hirarkis dan kecenderungan patron-klien atas institusi bisnis mikro, dalam lingkup terbesar hingga sekup terkecil.

Tim Peneliti: Hizkia Yosie Polimpung, Priska Sabrina Luvita, dan Natasha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *