Asemblase Relawan dalam Pemilu 2014

Cover Relawan

Pemilihan umum 2014 menghadirkan fenomena yang menarik dimana terjadi sebuah gerak massa yang menamakan diri mereka sebagai “Relawan Jokowi”. Menjadi “Relawan” dan terlibat langsung dalam partisipasi politik mendadak menjadi penting dalam kehidupan demokrasi saat ini. Fenomena relawan pada Pemilu 2014 setidaknya menunjukkan bahwa politik tidak hanya menjadi milik partai politik, dan menjadi satu-satunya kekuatan utama yang bisa menjalankan fungsi-fungsi organisasi politik. Partisipasi politik melebur dan dirayakan tidak hanya dalam bentuk organisasi baku seperti laiknya partai politik, tapi juga dalam bentuk baru yang “lumer” atau “sublim” dan bisa menjadi wadah bagi siapapun yang ingin bergabung dengan tujuan politik yang sama seperti “Relawan”.

Dalam melihat fenomena relawan, pandangan umum melihat relawan sebagai bentuk partisipasi politik yang melebur dalam suatu wadah, yang memiliki modal sosial dimana ada hubungan antara individu-jaringan sosial dan norma-norma timbal-balik atas dasar kepercayaan yang timbul dari mereka.[1] Partisipasi politik dalam bentuk relawan ini juga menjadi penting untuk tidak dipahami sebagai fenomena struktural (jaringan sosial), namun juga sebagai fenomena budaya.

Mohammad Qobari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, ketika diminta membandingkan hasil pilpres 2009 dengan hasil pilpres 2014, menyatakan kemenangan Jokowi-Jusuf Kalla kali ini, karena seperti figur SBY, Jokowi adalah figur yang berhasil menggerakan orang-orang diluar partai atau lintas partai.[2] Pernyataan ini bahkan diperkuat oleh Jokowi dalam menyikapi kemenangan mutlaknya di daerah Jawa Tengah. Sebagaimana diakui oleh Jokowi sen-

diri, kemenangan yang diraihnya tidak lepas dari peran aktif dan soliditas relawan.[3] Hal ini juga senada dengan pernyataan dari ketua Relawan Jokowi Jawa Timur, Bambang Dwi Hartono yang menyatakan suara Jokowi mendominasi dalam hasil penghitungan suara Pilpres 2014 di Jawa Timur.[4]

Hal ini menjadi menarik mengingat, penyelanggaraan Pemilu pada masa Orde Baru selama 32 tahun yang mengusung Golkar sebagai partai pemenang dengan mayoritas suara lebih dari 60% sejak tahun 1971-1997[5] tidak pernah menyertakan relawan sebagai salah satu elemen pemenangannya. Golkar yang terbentuk pada 1964 merupakan aliansi yang sebenarnya tidak cukup kuat dari organisasi sayap kanan dengan dukungan militer, tapi berubah menjadi menjadi partai penguasa yang memunculkan rezim Orde Baru selama 32 tahun. Kemenangan Golkar adalah sebuah desain sistem politik yang dapat dikontrol oleh penguasa saat itu, Soeharto. Kemenangan Golkar juga adalah sebuah catatan tersendiri dimana Golkar secara “de facto” berubah menjadi state party yang terdiri dari tiga elemen: birokrasi, militer, dan pegawai negeri. Struktur elemen tersebut berupa sistem komando dari level pusat hingga ruang lingkup paling kecil, yaitu kelurahan yang mencakup RT-RW, sedangkan partai lain (PPP dan PDI) hanya mempunyai struktur terkecil tingkat kota. Hal tersebut yang membuat kemenangan Golkar bisa bertahan hingga tiga dekade.[6]

Dalam perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia, kemunculan relawan yang tersebar di seluruh Indonesia berada di luar campur tangan kekuasaan dan partai politik baru terjadi saat Pemilu 2014. Kemudian, relawan ini hadir tidak dalam sistem komando yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh Golkar selama 32 tahun menguasai Indonesia, maupun seperti kerja-kerja politik dari partai politik pemenang pemilu pasca reformasi. Relawan juga tidak sepenuhnya sama dengan simpatisan, “massa bayaran”, atau professional volunteer.[7] Relawan yang muncul pada kontes demokrasi Pemilu 2014 adalah relawan yang bergerak dalam arus budaya kontemporer yang sifatnya terjadi begitu saja sebagai sebuah kejadian (event) tanpa ada instruksi dari pemerintah pusat, maupun partai politik yang mengandalkan sebaran ide dan kreatifitas dari setiap aktor yang tergabung atau mendaku diri sebagai relawan.

Kemunculan Relawan Jokowi tidak terpusat dalam satu induk organisasi saja. Relawan Jokowi hadir dalam ragam bentuk seperti Pro jokowi (ProJo), JASMEV, Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi, Jokowi Center, Radio Jokowi, Barisan Trisakti, Laskar Jokowi, Rejo dan Jo-man, belum lagi relawan yang belum didata baik dalam bentuk kumpulan individu yang tidak mewakili organisasi atau partai politik tertentu ataupun organisasi masyarakat yang melebur dalam berbagai nama yang tersebar di seluruh Indonesia.[8]

Aktivitas relawan, dalam hal ini, tentunya turut serta dalam pemenangan Jokowi. Hal yang penting untuk diingat adalah, bentuk-bentuk dukungan, kegiatan, kampanye, tidak lagi berada terbatas dalam gambaran umum suatu kampanye. Ia tidak semata-mata melibatkan individu-individu dalam organisasi. Keriuhan Pilpres bahkan mencakup televisi, media cetak, bahkan media sosial yang penetrasinya hari ini begitu massif. Beragam film pendek, video, poster, meme, dan tagar di linimasa juga diramaikan oleh keramaian relawan.

Tim Peneliti: Gede Indra Pramana, Yogi Ishabib, dan Niken Anjar Wulan

[1]Pippa Norri. Political Activism: New Challenges, New Opportunities. Boix & Stokes: The Oxford Handbook of Comparative Politics. Chapter 26, page 628

[2] Membandingkan Kemenangan SBY 2009 dengan Keunggulan Jokowi, http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/07/16/194400/2639440/1562/membandingkan-kemenangan-sby-2009-dengan-keunggulan-jokowi-2014

[3] Jokowi Kaget Dengar Laporan Nomor 2 Sapu Bersih di Jateng, 14 Juli 2014, http://regional.kompas.com/read/2014/07/14/0934094/Jokowi.Kaget.Dengar.Laporan.Nomor.2.Sapu.Bersih.di.Jateng

[4] Relawan Jokowi-JK Klaim dapat 53% Suara di Jatim, http://www.merdeka.com/politik/relawan-jokowi-jk-klaim-dapat-53-persen-suara-di-jatim.html

[5] Leo Suryadinata. The Decline of the Hegemonic Party System in Indonesia: Golkar after the Fall of Soeharto. Contemporary Southeast Asia Vol. 29, No. 2 (2007), pp. 336.

[6] Ibid, hal 335

[7] Robert Kleidman. Volunteer Activism and Professionalism in Social Movement Organizations . Social Problems, Vol. 41, No. 2 (May, 1994), pp. 257. Kleidman menyatakan konsep “relawan profesional” seperti ini : “professional volunteer is founded and run by paid staff members who raise money rather than recruit volunteers. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh John McCarthy dan Mayer Zald dalam The Trend of Social Movements in America: Professionalization and Resource Mobilization, disebut sebagai professional social movement organization (PSMO).

[8] Fabian Januarius Kuwado, Pesan Anies Baswedan kepada Relawan Jokowi-JK, lihat di http://nasional.kompas.com/read/2014/06/03/1214188/Pesan.Anies.Baswedan.kepada.Relawan.Jokowi-JK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *